ATRA – Teman saya pernah bercerita tentang pertemanannya dengan mahasiswa yang mempunyai gaya hidup sosialita, dia bilang merasa untung berteman dengan mahasiswa sosialita tersebut tapi di lain sisi dia merasa canggung.

Saya mengetahui dari cerita teman saya yang ada di Fakultas Teknik, ternyata ada beberapa mahasiswa dengan gaya hidup sosialita. Kebanyakan orang-orang mentafsirkan sosialita itu identik dengan kaum hawa saja, tapi kenyataannya apa yang diceritakan oleh teman saya melebihi ekspektasi saya, awalnya saya mengira dia mau menceritakan teman wanita nya, ternyata teman pria nya yang mempunyai gaya hidup sosialita.

Ketahuilah kehidupan mahasiswa yang sewajarnya itu tidak terlalu mewah-mewah banget, ya mungkin ada beberapa mahasiswa yang hidupnya diselimuti kesepian mendalam, karena terdiam dalam diam kemewahan. Iya memang kemewahan tersebut di dapatkannya dari duit orang tuanya, bukan dari duit dia sendiri dan juga bukan dari hasil ngepet saya yakin itu.

Saya yakin juga setiap mahasiswa yang baru pertama kali masuk kuliah dia akan diwanti-wanti oleh orang tuanya agar selalu mengajarkan beli apa yang dibutuhkan, jangan menyewa sesuatu untuk pelampiasan hawa nafsu membeli semua keinginan. Sudah menjadi rahasia umum ketika mashasiswa lebih mengutamakan keinginan daripada kebutuhan ya kalo di persentasekan mungkin 70:30 atau mungkin bisa lebih lagi.

Semua berawal ketika saya dan teman saya sedang duduk-duduk manis di kedai kopi, dia bercerita awal pertemanan saya dengan dirinya hingga akhirnya cerita tersebut melebar sampai dia bercerita tentang teman dekatnya juga teman satu fakultasnya yang mempunyai gaya hidup yang sosialita. Teman saya bilang bahwa dia diajarkan oleh orang tuanya agar tidak memilih-milih dalam berteman, alhasil bertemanlah dia dengan seorang mahasiswa kaya raya, sebut saja namanya mawar Adrian.

Adrian ini menurut penuturan teman saya memang dia terlahir dari keluarga yang mapan dan berkecukupan, semua barang yang dipakai si Adrian ini semua bermerk hingga mobil yang digunakan setiap hari ke kampus. Kos-kosannya pun yang dia sewa kosan elite yang harganya bisa mencapai 2juta per bulan. Tapi teman saya bercerita, walaupun mempunyai gaya hidup sosialita dia tidak sombong. Teman saya bilang pertemanan antara dia dan Adrian memang sangat dekat, alhasil teman saya itu selalu terbasahi oleh barang-barang mahal dan sesuatu yang mewah dari temannya itu yang dirasa menurut dia tidak eman-eman diberikan ke teman saya. Salah satunya yang diceritakan teman saya, dia memberikan jam branded yang harganya cukup mahal.

Temanku bilang dia tidak iri sama sekali dengan Adrian, untung juga berteman dengan yang memiliki gaya hidup sosialita. Bagaimana tidak, dia sering diajak makan di KFC, lalu ketika mengerjakan tugas selalu melipir ke starbuck. Menurut penuturan teman saya, dia memang selalu ditraktir ketika diajak makan atau sekedar minum di café-café, tapi tidak semua traktiran itu diterimanya dan kadang-kadang teman saya yang bayar dengan uang sakunya, katanya canggung juga tidak enak kalau setiap diajak makan atau minum selalu ditraktir. Teman saya juga bilang kadang ketika Adrian mengajak dirinya keluar hanya sekedar makan, minum uang saku dia selalu habis setiap bulannya tanpa tersisa.

Yang bikin salut menurut teman saya, dia bisa menyesuaikan dengan habitat saya dan ketika diajak makan di warung aa burjo atau minum di angkringan dia mau-mau saja dan tidak menolak. Tapi kata teman saya ketika semua itu berbalik, Adrian yang mengajak dia untuk keluar rasa-rasanya dia ingin mati bunuh diri saja karena terlalu banyak hutang. Otomatis disitu saya langsung melarang, ngapain kamu bunuh diri. Jangaan, ngan, ngan (dibacanya bergema) di ibarat kata, kata temanku. Ohhh, iya deh, alhasil saya tidak jadi melarang dia untuk bunuh diri.

Ini masih satu dari berbagai sekelumit kehidupan dengan gaya sosialita, baru makan dan minum belum semua dibahas mulai dari hiburan, belanja, hingga liburan ala sosialita. Teman saya bilang lagi katanya berteman dengan dia bisa membuat dia bahagia dan senang, terlepas dari omongan teman-teman lainnya. Tapi dia juga bilang, biar lah dia berteman dengan teman yang ststus sosialnya lebih tinggi dari dia, asalkan dia masih berteman baik dengan siapa saja dan tidak mencari musuh.

Selesai ya, kalau saya bahas tentang hiburan, belanja dan liburannya yang sosialita nanti saya terbawa suasana, jadi ceritanya cukup sekiankan. Yang di bawah ini saya mengomentari menurut pendapat saya saja, tanpa adanya ingin berkenalan dengan mahasiswa yang status sosialnya lebih tinggi, karena nanti saya tidak kuat menerima kenyataannya, karena saya masih tau diri orangnya.

Kalo saya sih sebenarnya merasa tertekan berteman dengan teman yang status sosialnya lebih tinggi dan saya tidak cukup kuat untuk mengimbanginya, tapi di lain sisi saya orangnya bodo amat dan tidak memperdulikan omongan orang. Tapi alahkah baiknya, teman saya lah yang harus mendominasi dan mengajak Adrian agar mengikuti gaya hidup sederhananya. Hidup dalam kepura-puraan memang menyakitkan, jika saya yang berada diposisi teman saya, pikiran saya pasti dipenuhi oleh praduga tanpa melakukan sesuatu hal apa pun.

Dan biasanya jika sudah seperti itu, yang saya lakukan adalah menjauh tanpa sebab dan mengurangi berkomunikasi dengannya. Iya memang, hal yang tidak pantas saya lakukan saya sadar itu. Teman saya itu memang cukup kuat untuk mengimbangi teman dengan gaya hidup sosialitanya, sungguh emeizing tak wajar.

Tapi pertemanan itu bukan hanya persoalan uang, tapi soal waktu dan tenaga, jika kita punya waktu dan tenaga pastinya kita juga akan membalas kebaikan yang sudah dilakukan teman kita kepada kita yang selalu membantu pada saat susah.

Artikel ini pernah tayang sebelumnya di SUNDO ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here