Degradasi moralitas kos-kosan ‘Las Vegas’ banyak diburu karna aturan yang bebas

0 34

ATRA  – Kos-kosan sebenarnya ditujukan bagi mereka yang ingin memadu kasih merantau di kota perantauan mereka, entah itu merantau untuk kuliah atau untuk mencari pekerjaan yang jauh lebih baik dari tempat asalnya. Tapi apa tujuan mereka merantau itu hanya untuk mencari kesenangan dan menyewa kos-kosan ‘Las Vegas?’

Kebetulan pada saat itu saya sedang mencari kos-kosan untuk tempat tinggal saya diperantauan, bukan untuk bekerja melainkan saya merantau untuk kuliah. Tujuan awalnya memang ingin mandiri jika jauh dari orang tua, tapi saya baru mengetahui ternyata banyak hal baru yang belum saya ketahui termasuk moralitas dari orang-orang yang lagi ingin memadu kasih dimana orang-orang tersebut mengabaikan moralitas mereka sebagai manusia, mereka yang mencari kos-kosan ‘Las Vegas’. Dari situlah saya mendapatkan sedikit cerita dari pemilik kos-kosan yang mengeluhkan banyaknya pertanyaan dari orang-orang yang sedang mencari kos-kosan.

Menurut penuturan pemilik kos-kosan yang sudah saya temui di beberapa daerah di dekat kampus saya di Solo, banyak dari pemilik kos-kosan tersebut mengeluhkan tentang pertanyaan “Apa ada kamar LV alias Las Vegas?” , “Apa boleh bawa cewe masuk?” , “Apa kamarnya bisa ditinggali dengan tunangan saya?” dan lain sebagainya.

Pertanyaan seperti itu menurut penuturan pemilik kos-kosan yang saya temui, hampir semua pernah mengalami dan dicecar oleh pertanyaan seperti itu, bukan hanya pemilik kos-kosan saja tapi juga dialami oleh sebagian pemilik kontrakan.

Sebenarnya apa sih yang dicari mereka, dan menurut saya pertanyaan tersebut juga jika kalian masih bermoral, mendengarnya saja sudah sangat risih, membiarkan mereka menyewa kos-kosan dimana mereka dengan bebasnya keluar masukkan cewe seenak udel mereka.

Saya mengetahui dari teman saya dimana saya bertanya kepada dia, dia mengungkapkan bahwa istilah LV alias ‘Las Vegas’ khususnya di dalam dunia kos-kosan atau kontrakan terutama di daerah yang dipadati oleh kampus, belakangan ini marak sekali digunakan. Menurut penuturan dia, istilah LV muncul tahun 2013, dari tahun ke tahun sampai saat ini semakin masif dalam pencarian Info Kos dan Kontrakan di group facebook.

Setelah diselidiki, yang dimaksud kos-kosan LV itu adalah kos-kosan dengan aturan yang bebas 24 jam, bebas bawa pasangan, bebas keluar masukkan cewe, wis sak karepmu dewe, intine bebas sak bebas bebase bebas dari segala aturan yang menghalangi adanya unsur kebebasan si penyewa kos-kosan. “Istilah Las Vegas kemudian sangat populer dan digunakan pula sampai hari ini dalam pencarian kos-kosan di wilayah Solo dan Jawa Timur,”

Sponsored!

Melihat realitas tersebut teman saya bercerita banyak yang menganggap bahwa kos-kosan LV memiliki konotasi negatif, tapi sebenarnya ada beberapa istilah dalam mencari sebuah kos-kosan yang perlu dipahami. Di antaranya membedakan istilah pencarian kos-kosan LV dan kos-kosan Bebas. Kos-kosan LV adalah kos perilaku penyewa kamar serba bebas yang sudah disebutkan diatas, sedangkan kos-kosan bebas yang dimaksud adalah terkait jam malam, artinya adalah membawa kunci gerbang sendiri-sendiri, dan sebagainya.

Dalam khasanah dunia goib kos-kosan sangat dikenal, beda istilah, beda aturan dan beda tarif. Menurut teman saya “Memang harus diakui, bahwa permintaan terhadap kos-kosan LV sangat dicari dan diburu sampai saat ini. Ini tanda-tanda apa, menarik kalau diteliti dan dikaji,” sopo juga yang mau mengkaji koyok ngono lurd, koe ki ebel.

Saat mendengar cerita dari pemilik kos-kosan, banyak diantara mereka yang memilih jalan yang aman-aman saja, memilih jalan lurus, menuju ke surga jalan yang baik-baik saja. Ini sebagai bukti bahwa ada kekwatiran dari pemilik kos-kosan bahwa kos-kosan mereka tidak mau di cap sebagai kos-kosan LV dan menjadi bahan gunjingan orang sekitar.

Padahal kalau hanya sekadar cari uang dan mengesampingkan etika sosial, moralitas agama, bisnis kos-kosan LV itu sungguh sangat menggiurkan. Tarif tinggi tanpa ditawar penyewa, sudah menjadi rahasia umum, di kalangan anak kos-kosan bahwa kos-kosan LV harganya lebih mahal di banding kos biasa.

Apakah ini merupakan pertanda terjadinya degradasi moralitas dalam masyarakat kita? Hal tersebut akan mengakibatkan munculnya kos-kosan LV menjadi kekhawatiran dan kecemasan orangtua yang punya anak kuliah yang merantau.

Jadi manusia itu yang normal-normal sajalah, untuk seperti itu tu pasti nantinya akan ada waktunya juga. Kita semua akan merasakan hal yang sama pada akhirnya, merasakan kematian artinya sebagai manusia yang masih memiliki pikiran dan moral seharusnya tetap memegang teguh tata nilai, moralitas, sosial, budaya dan agama. Meski sikap itu juga mendapat tantangan, adanya jam bertamu atau berkunjung, menginap harus memberi tahu pemilik, menginap lapor RT sering dianggap sesuatu yang kuno, dianggapnya ketinggalan zaman, padahal hal itu memang sudah menjadi aturan agar menciptakan kondiri yang kondusif.

Artikel ini pernah tayang sebelumnya di SUNDO ID

 

Sponsored!

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More