ATRA – Bagi mahasiswa tingkat akhir pastinya sudah dalam kondisi genting memikirkan skripsi, judul skripsi seperti apa yang akan diajukan guna memenuhi permintaan calon mertua gelar sarjana.

“Kerjakan saja, bisa tidak bisa kamu kerjakan saja. Menyusun skripsi itu rumit, serumit para gamers yang lagi galau karna PUBG diharamkan MUI karena hidup itu tidak semuanya indah, maka jadikanlah skripsi bagian dari kehidupan yang tidak indahmu.” Kata-kata tersebut dikutip dari Dosen pembimbing. Wk.

Bagi mahasiswa tingkat akhir, menyusun skripsi itu adalah sesuatu hal yang tidak bisa dihindari. Mau tidak mau, bisa tidak bisa, skripsi pasti akan menghampiri kepada setiap individu mahasiswa tingkat akhir, layaknya rasa ngantuk saat masuk kuliah di jam siang.

Mungkin bagi sebagian mahasiswa akan merasa senang, karna sudah punya modal untuk melamar sang pujaan (Belum sampai menghalalkan ya, kalau itu nunggu gelar S2) Wk sebentar lagi akan menyandang gelar sarjana yang ditunggu-tunggu selama 3,5-4 tahun lamanya, sebagian mahasiswa lainnya mungkin mulai ‘mengutuk’ Dosen yang menguji skripsinya, dikarenakan mahasiswa tersebut baru tersadar bahwa skripsi itu tidak semudah mendapatkan nilai AB dari ‘Dosen kesayangan mahasiswa’ (Itu lho Dosen yang gak pernah ngasih tugas, mahasiswa yang absensinya cuma lima pertemuan, ujian alakadarnya, eh tau-tau dapat nilai AB) Wk.

Kalau saya mungkin tidak masuk dalam kedua kategori tersebut dan mungkin mewakili sebagian kecil dari mahasiswa lainnya, yang memikirkan bagaimana caranya lulus saat sidang nanti dan mungkin bisa berkonspirasi dengan Dosen penguji. Haha, absurd kan.

Sama seperti kata-kata absurd-nya Albert Camus, seorang penulis atau filsuf asal Prancis, dalam karyanya Les jutes(1950), dia mengatakan “Menjelang kematian itulah setiap orang berhadapan dengan kenyataan yang diinginkannya. Kematian merupakan kunci terakhir untuk menilai makna kehidupan. Jika kehidupan itu bermakna, mengapa ada kematian yang tiba-tiba datang dan menghancurkan seluruh proyek-proyek yang sudah dibangun manusia selama hidupnya? Apakah manusia itu menyerah begitu saja untuk ditelan oleh kematian dan mengakhiri hidupnya yang sudah dibangun sekian lama?”

Begitulah kehidupan, banyak dikelilingi ke-absurd-an, dan Albert Camus pun mendefinisikan ke-absurd-an tersebut dengan sebutan absurditas, dimana dia pernah menanyakan tentang “apa dan siapa manusia itu?” lalu contoh lain disebutkan dalam bukunya “untuk apakah hewan-hewan babi itu dinegara yang melarang memakan hewan babi” , “seperti apakah waktu itu?” dan akhirnya muncul lah dibenak saya pertanyaan, mengapa ke-absurd-an tersebut harus dimaknai dengan ke-absurd-an juga? Wk.

Didunia ini itu pasti ada lah pertanyaan-pertanyaan yang tidak mewajibkan adanya jawaban dalam benak manusia. Hakekat manusia sendiri adalah suatu sejarah. Apa yang kita peroleh dari pengamatan kita atas pengalaman manusia adalah suatu rangkaian anthropologi constant (dorongan-dorongan dan orientasi tetap manusia) dan bukan suatu definisi pra-ada tentang hakekat manusia itu sendiri.

Kerumitan yang nyata, nyata-nyatanya dihadapi para mahasiswa tingkat akhir dalam mengejakan skripsinya. Mulai dari harus exstra berikir, butuh dorongan semangat, butuh duit untuk menjamu dosen penguji dan kesegala kerumitan dalam menyusun skripsi. Tapi mungkin ada sebagian mahasiswa tingkat akhir berpendapat bahwa ini adalah sebuah proses, proses kemajuan dalam kehidupan untuk masa depan kelak. Jadi mahasiswa tingkat akhir itu seharusnya tidak perlu berfikiran yang neko-neko saat menyusun skripsi, cukup nikmati, jalani, hayati dan berdoa pada sang Illahi semoga dilancarkan semua prosesnya dari awal sampai proses sidang nanti dan jangan lupa untuk berdoa agar mendapatkan Dosen penguji yang baik, pengertian, pengertian dalam artian ketika tidak dibawakan makanan tetap akan bersikap kooperatif, adil.

Mungkin banyak juga mahasiswa tingkat akhir yang masih saja mendapatkan kendala saat menyusun skripsi, entah itu susah mencari sumber referensinya, otak sudah panas untuk berfikir atau malah susah untuk mendapatkan judul skripsi. Antara batin dan pikiran bagaimana caranya itu harus bekerja sama untuk tidak saling berontak dan malas-malasan saat menyusun skripsi.

Berkaca dari yang sudah-sudah, pendahulu kita kakak-kakak tingkat kita, dari sebagian banyak pasti ada segelintir kakak tingkat kita yang menyerah dengan penyusunan skripsi, sehingga menjadikan kualitas skripsi tersebut tidak sesuai sebagaimana mestinya dan kakak tingkat kita menganggap bahwa skripsi hanyalah skripsi, tumpukan lembaran kertas yang tebal yang akan membawa kita mendapatkan gelar sarjana, bagaimanapun caranya sampai ada yang dibuatkankan skripsinya oleh jasa pembuat skripsi, yang biayanya bisa mencapai jutaan itu.

Bagi mahasiswa tingkat akhir yang menikmati, dengan santai menjalani dan sudah berdoa pada sang Illahi pasti akan menganggap bahwa skripsi adalah karya terbaik yang pernah ia buat selama di bangku kuliah, bisa berbangga karena kerja keras selama ini untuk menyusun skripsi terbayar lunas saat skripsimu mendapat nilai sempurna dari Dosen penguji.

Tentu sebagian dari kalian akan beranggapan lulus sidang skripsi itu tidak seindah pasca kuliah. Salah bosque. Ini  hanya sudut pandang dari mahasiswa tersebut, jika kita berfikir dan focus ke satu tujuan, maka apa yang kita kerjakan pun akan terasa mudah. Untuk mencapai tujuan tersebut pasti akan ada syarat mutlak dan pasti akan ada jalan untuk melewatinya, sama halnya yang dikatakan “Arthur Rubinstein – Mungkin banyak jalan menuju kegagalan. Sementara untuk sukses, hanya ada satu jalan. Tentu saja tidak ada resep sukses, kecuali menerima hidup tanpa syarat berikut apa yang diberikannya.”

Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi mahasiswa yang memiliki ego yang tinggi, dia tidak menyadari bahwa dirinya mempunyai potensi untuk sukses dan bersaing dengan mahasiswa lainnya. Ini berkaitan dengan kebebasan dari kehidupan mahasiswa itu sendiri, atau mereka biasa menyebut dengan freedom, jadi mahasiswa model ini mereka yang berkehendak atas kemauannya sendiri dan buatannya sendiri, tidak mementingkan orang banyak, asal dia happy sendiri.

Bercermin dari hal tersebut maka kehidupan kita itu harus tersusun dan tertata dengan rapih, dari situlah manusia dapat menjalanan hakikatnya sebagai manusia dan bisa bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat untuk lingkungan sekitar. Termasuk dalam hal menyusun skripsi.

Sayangnya hal tersebut masih banyak dilakukan mahasiswa tingkat akhir, dimana situasi sedang genting, sudah mendekati mimpi terburuk untuk menghadapi Dosen penguji masa-masa akhir, masih saja santai dengan tingkah polah mereka sendiri. Hal ini bertentangan dengan hakekat manusia tadi, manusia itu adalah suatu sejarah. Bagaimana mungkin jika kita sebagai manusia bisanya hanya leyeh-leyeh, tanpa memperoleh pengalaman dari pengamatan. Sudah dikatakan sebelumnya, bahwa suatu pengalaman manusia adalah suatu rangkaian anthropologi constant (dorongan-dorongan dan orientasi tetap manusia)bukan dorongan-dorongan yang mengarah kepada seksual dan orientasi kesenangan belaka, kalo itu piker keri dulu bosque, pasti ada waktunya. Hehe

Tidak heran apa yang dikatakan Albert Camus ada benarnya, “Manusia adalah mahluk yang misterius, karena derajat keterpisahan manusia dari dirinya berbanding terbalik dengan perhatian yang demikian tinggi terhadap dunia yang ada diluar dirinya” Ini artinya bahwa manusia mempunyai system keterbatasan, penderitaan, kegagalan dan segala pengalaman yang kontradiktoris. Seseorang yang pacaran LDR saja, itu pasti merasakan kontradiktoris yang membuat mbatin antara keduanya, si cowo bilang LDR itu gak sulit, si cewe bilang LDR itu sulit. Wk

Tapi diluar itu semua, kita sebagai manusia harus memahami bahwasanya manusia adalah suatu sejarah dan manusia bertanggung jawab terhadap sejarah mereka sendiri yang akan mereka catat dan dibaca di masa yang akan datang. walau halangan, rintangan membentang, tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran. Seperti sebuah lagu yang tak asing lagi ditelinga,wk. Namun sudah seharusnya manusia merasa senang atas apa yang dia lakukan dan putuskan, diluar memutuskan hal yang jelek atau tidaknya, manusia harus bisa bertanggung jawab terhadap keputusan yang dia ambil tersebut.

Kepanjangan sepertinya, saya akhiri saja. Satu pesan untuk siapa saja, terutama bagi mereka yang sudah mulai ‘Mengutuk’ Dosen pembimbing dan Dosen pengujinya pasrah terhadap skripsinya dan malas berfikir dan inginnya cepat-cepat selesai menyusun skripsi yang kualitasnya tidak sesuai dengan sebagaimana mestinya. Coba untuk bisa memahami perkataan Arthur Rubinstein disetiap apa yang kita ingin tuju, pasti akan ada syarat mutlak yang harus kita lalui. Kita pun juga sudah mengetahui bahwa tujuan yang kita tuju pasti akan ada kesulitan, tapi meski sesulit apapun, jika kita sudah punya tekad kuat, pasti pilihan tersebut akan diambil-ambil juga. Benar apa betul?

Artikel ini pernah tayang sebelumnya di SUNDO ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here