ATRA – Hidupku dikacaukan oleh sebuah pengalaman yang terjadi pada saat aku pertama masuk di bangku kuliah. Aku seringkali berpikir dan mengingat kembali disaat dimana pengalam tersebut terjadi padaku. Tidak ada seorangpun yang mempercayai kisahku ini, maka kuputuskan untuk menulisnya agar semua orang bisa membaca dan mengetahui apa yang aku alami.

Semua itu terjadi ketika aku diterima disalah satu Universitas Negeri ternama dikota Bandung, ketika keluargaku pindah kesebuah rumah baru. Ayahku mendapatkan sebuah pekerjaan baru dimana penghasilannya lebih baik dan satu minggu kemudian, kami menjual rumah kami dan menyewa sebuah apartemen dikota dimana kemudian kami pindah. Kami pindah saat beberapa minggu aku lulus dari SMA, sehingga hal ini memudahkanku untuk mengurus segala permasalahan perpindahanku ini.

Ketika hari pertama aku masuk kuliah, aku merasa sangat gugup berjalan keluar dari gedung apartemen menuju sekolahku yang berjarak cukup dekat. Aku tidak mempunyai waktu untuk berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya di lingkungan kampus baruku ini, sehingga aku tidak mengenal siapapun disini dan sungguh merasa sangat asing dan sendiri. Aku ingat bahwa dipagi itu aku tidak benar-benar “bercakap cakap” dengan siapapun. Aku terlalu pemalu dan canggung untuk melakukan hal itu. Aku hanya mengambil dan mengamati jadwal, mencoba menyibukkan diri untuk mencari tahu dimana kelas pertamaku dikampus berada.

Kulihat jadwal yang tertera bahwa aku harus berada di kelas S104 dengan mata kuliah Bahasa Inggris di gedung A Fakultas Sastra&Budaya. Aku memeriksa peta kampus yang telah diberikan kepadaku sebelumnya. Kuperiksa peta tersebut berulangkali, namun aku tidak bisa menemukan nomor kelasku didalamnya. Dan pada saat itu tidak ada staff yang ada disekitar yang bisa kujadikan sebagai sumber informasi. Aku mulai merasa panik. Kemana aku harus pergi?

Akhirnya aku melihat gedung yang menjadi tujuanku. Ya benar, itu gedung A. ahirnya aku memutuskan untuk berjalan dan memasuki gedung itu dengan terburu-buru. Aku melihat bahwa dari susunan gedung ini terdapat sebuah bagian di kanan gedung kampus yang nampaknya terdapat beberapa kelas yang cukup lebar namun tidak diberi nomor. Nomor kelas di bagian kiri terjauh dari gedung ini adalah S300-S310, sedangkan pada bagian tengahnya nomor – nomor yang tertera adalah S200-S230. Kupikir bahwa kelasku yang berada di S104, pastilah berada dideretan sebelah kanan. Aku kemudian menyusuri koridor, kebanyakan mahasiswa sudah datang lebih awal, tidak sepertiku yang baru datang dan telat dihari pertama kuliahku, dan mereka tentu saja sudah masuk ke kelasnya masing masing. Sedangkan aku masih sibuk membolak balik peta yang kubawa. Lorong koridor sudah sangat sepi saat itu. mungkin pada saat itu seharusnya aku mendatangi meja informasi dan bertanya, namun aku terlalu malu untuk melakukannya, dan kuputuskan untuk mencarinya sendiri saja.

Aku kemudian menyusuri dan mengamati tata ruang dikampus baruku ini, dan diujung koridor yang sepi, jalanku terhalang oleh sebuah pintu kayu tua dobel yang tak bisa terbuka ketika aku mendorongnya. Sungguh aneh, kupikir ada yang salah dengan semua ini. Sepertinya bagian dari gedung ini tidak ada yang boleh memasukinya. Namun kemudian aku berpikir bahwa ada seseorang yang secara tidak sengaja menutupnya atau mungkin aku kurang kuat mendorongnya saja.

Aku mendorong pintu itu dengan bahuku, dan kemudian diikuti suara berdecit, pintu tersebut akhirnya terbuka juga. Aku menyadari bahwa aku telah merusak salah satu engselnya yang memang sudah berkarat. Merasa amat khawatir telah merusak pintu dihari pertama masuk kuliah, aku sebenarnya nyaris saja berbalik dan berlari menjauhi tempat itu, dan mungkin memang lebih baik aku bertanya kepada seseorang untuk menunjukan letak kelasku. Sangat jelas bahwa aku sebenarnya tidak boleh berada dibagian dari kampus dimana aku berada kini. Koridor yang ada didepanku terlihat sangat kumuh dan berdebu. Locker yang ada terlihat terbuka dan tak terpakai. Bau tembok berjamur tercium samar dari tempat ini. tetapi ketika aku hendak berbalik, aku melihat bahwa nomor kelas terdekat yang aku lihat adalah S100.

Agak bingung juga aku melihat hal ini, kemudian aku memeriksa timetableku lagi untuk meyakinkan bahwa aku telah membaca nomor kelasku dengan benar. Dan memang benar, ruanganku bernomor S104. Aku kemudian mulai berjalan pelan menyusuri koridor dan melihat dari jendela masing masing kelas. Diruangan S100 kosong, S101 juga kosong tidak ada satu orangpun yang berada disana. S102 kosong juga, hanya terdapat sebuah kerangka plastic yang terlihat menguning tergantung dipojokan bersama jas lab dari para mahasiswa. Cukup membuatku merasa grogi juga sebenarnya, ketika aku memeriksa ruangan S103 yang ternyata juga kosong, lalu aku mendengar suara pria dewasa, mungkin saja itu dosen yang sedang mengajar ujarku, aku mendengar suara itu dari arah sebaliknya ruangan S104.

Aku mengintip dari jendela dan kulihat bahwa diruangan tersebut penuh. Memang kelas ini penuh namun apa yang kulihat disana sungguh diluar dugaanku sebelumnya. Memang ada seorang dosen disana menggunakan setelan berwarna merah maroon dan dasi kupu kupu berwarna biru, dan ada juga para mahasiswa yang mengikuti kelasnya, focus mereka terarah pada sang dosen. Mereka duduk dibangku yang kupikir terlihat sangat kuno. Namun bukan hal itu yang membuatku heran, tapi baju yang mereka pakai yang membuatku merasa demikian. Mahasiswa-mahasiswa jaman sekarang tidak berpakaian dengan model seperti itu lagi. Jika kuingat kembali, keadaan kelas saat itu nampak seperti di film-film lawas. Sang dosen berdiri disamping papan tulis yang kotor oleh kapur tulis.

Mengesampingkan kejanggalan ini, aku kemudian mengetuk pintu. Kupikir kampus, terutama fakultas itu agak bermasalah dalam hal pembiayaan.

Dosen itu tidak menyadari ketukanku, maka dengan perlahan aku membuka pintu dan berjalan masuk. Tidak ada seorang mahasiswapun yang mengalihkan perhatiannya dari sang dosen, tidak ada seorang mahasiswapun yang memperhatikanku.

Dengan canggung aku meminta maaf atas keterlambatanku, aku beralasan bahwa sempat tersesat sebelumnya. Kemudian aku berjalan menuju kesatu-satunya bangku yang kosong diruangan itu. Aku duduk dan merasa pipiku panas terbakar saking malunya. Kupikir aku pastilah telah mengganggu jalannya pelajaran.

Beberapa saat kemudian dosen tersebut kembali melanjutkan pelajaran. Tidak ada yang terlalu luar biasa. Namanya adalah Mr.Ansori. Dia mulai menulis soal di papan tulis dan meminta pada mahasiswanya untuk mengerjakannya. Seperti yang kubilang sebelumnya, mata kuliah Bahasa Inggris ini tidak jauh berbeda, kecuali pada satu hal bahwa tidak ada satupun proyektor yang digunakan. Tiap saat aku mengangkat tangan untuk menjawab soal, bahkan sedikit terlalu berlebihan dalam caraku mencari perhatian dosen, dia selalu mengabaikannya dan memilih mahasiswa lain untuk menjawabnya.

Pelajaran seperti berakhir dengan sangat tergesa gesa dimana aku merasakannya seperti berjam jam. Sesungguhnya aku merasa bosan dan sangat sedih karena merasa diacuhkan. Aku ingin segera pulang dan mengadu.

Ketika aku meninggalkan kelas, aku merasa perutku sangat lapar. Aku melirik jam tanganku dan sangat terkejut ketika melihat bahwa waktu menunjukkan pukul 17.00 itu artinya waktu pelajaranku telah berakhir sepenuhnya. Satu hari hanya untuk kelas Bahasa Inggris saja? Sungguh mengerikan!. Aku berpikir bahwa aku sungguh membenci kampus itu. Aku berjalan pulang dengan gontai, masih terbayang apa yang baru saja kualami seharian. Kupikir semua ini sangat menyebalkan dan janggal, namun aku berusaha menghibur diri bahwa suatu saat kemudian aku pasti akan terbiasa dengan ini semua.

Ketika aku sampai dirumah, ibuku sedang berbicara dengan seseorang ditelepon. Wajahnya Nampak bingung. Dia mendengar aku datang dan terlihat mengerutkan dahi ketika melihatku. Entah kenapa Ibuku terlihat begitu marah dan meminta kepada orang yang ada di telepon untuk menunggu sebentar, dan kemudian Ibuku menuduhku telah bolos dihari pertama kuliahku ini.

Giliran aku yang merasa bingung. Aku berkata padanya bahwa aku berada dikelas seharian. Namun nampaknya pihak fakultas menelepon dan mengatakan bahwa aku tidak ada dikelas seharian dan tidak melihatku lagi sejak terakhir kali aku mengambil jadwal kuliah. Aku kemudian mengatakan bahwa aku hadir di kelas Mr Ansori di ruangan S104 di gedung A sepanjang hari. Kupikir pastilah aku tidak tertulis di daftar absen karena aku datang terlambat.

Ibuku kemudian berhenti sejenak dan mengatakan pengakuanku kepada pihak fakultas. Ekspresi mukanya nampak tercekat dan begitu kaget setelah beberapa saat dan kemudian menatapku dengan khawatir.

Dia kemudian menutup telepon dan menceritakan padaku apa yang baru saja dikatakan oleh pihak fakultas.

Nampaknya ruang kelas S104 di gedung A merupakan bagian dari gedung kampus yang dikosongkan dan sudah tidak digunakan lagi sejak terjadinya kasus penembakan sekitar 44 tahun yang lalu.

Pihak fakultas menuduh bahwa aku pasti sedang melakukan hal usil dan lelucon gila.

******

Malam harinya aku melakukan searching di web untuk mencari tahu kebenaran tentang apa yang dikatakan oleh pihak fakultas di kampusku. Dan kemudian aku mendapatkan sebuah artikel di koran lama mengenai pembantaian di fakultas dikampusku tersebut yang ternyata telah diarsipkan.

Seseorang yang gila dan tidak waras berjalan memasuki fakultas dengan membawa senapan berburu dan menembak mati seluruh isi kelas. Dia menutup dan mengunci pintu masuk dan menembak semua orang yang ada di kelas Bahasa Inggris. Sebuah foto menunjukan kelas dimana pembunuhan tersebut terjadi. Aku mengenalinya seketika. Kelas itu adalah kelas S104.

Sebuah obituary juga nampak ditujukan sebagai persembahan kepada semua korban yang tewas. Dan disertakan pula foto-foto semua korban. Aku mengenali mereka semua, Mr. Ansori dan semua mahasiswa yang sempat bersamaku seharian dikelas Bahasa Inggris.

Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku sungguh merasa sangat mual akibat ketegangan atas hal yang membuatku sangat shock. Seketika pula seluruh tulangku serasa membeku, dan bulu kudukku merinding.

Setelah hari itu, aku memilih untuk tetap bertahan di kampus itu dan atas rekomendasi dan masukkan dari Ibuku.

******

Sekarang, bertahun tahun setelah semua itu terjadi, aku menulisnya, aku menulis apa yang sebenarnya telah terjadi dimana tidak ada seorangpun yang mempercayaiku.

Namun tidak berselang lama dari kejadian mengerikan yang aku alami beberapa tahun lalu, kemarin aku menerima sebuah surat. Tidak ada alamat pengirim. Dan itu adalah sebuah undangan untuk sebuah reuni yang ditandatangani oleh

Dosenku :

Mr. Ansori.

—————————

Original story by Angga Apin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here