Kehidupan Pasca Kuliah Tidak Seindah Lulus Cumlaude

0 20

ATRA – Kehidupan saat-saat kuliah memang sangat menyenangkan, jadi jangan sampai terlena karenanya. Sebaliknya, ketika pasca kuliah kehidupan bisa saja menjadi awal kehidupan yang membosankan, bahkan menyedihkan? Benarkah begitu?

Senja pertama saat saya di kota Bandung, pagi itu ketika gelapnya malam terkikis dan dibilas dengan cahaya oranye, tidak lupa untuk menyiapkan dan menyeruput secangkir kopi latte panas, sembari menonton kartun kesukaan We Bare Bears. Hal yang paling indah dilakukan dipagi hari, secuil kebahagiaan dari nikmatnya dunia.

Pagi itu saya sudah berjanji dengan teman SMA saya, rasanya sudah lama sekali saya tidak bertemu, walau hanya sekedar mengobrol. Tapi karna sekarang saya banyak waktu luang dan memang saya sedang libur kuliah. Saya menyempatkan temu kangen dengan dia.

Namanya Raisal, dia Sarjana Sistem Informasi lulusan UNIKOM Bandung. Sebenarnya kita satu angkatan, tapi dia sudah wisuda tahun 2018 lalu. Ya, memang berbeda dengan saya, saya tidak langsung kuliah, melainkan jeda dua tahun lamanya. Kita janjian dan bertemu di salah satu café di jalan Gatsu Bandung. Rasanya pangling sama teman sendiri, karena memang sudah lama tidak bertemu. Wajar saja, saya di Solo, dia di Bandung.

Banyak obrolan yang kita obrolkan, dan dari pertemuan itu pula saya mendapat banyak hal, termasuk kehidupan pasca kuliah yang dia ceritakan ke saya.

Menurut dia, masa-masa kuliah adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Saat itu, dia punya banyak kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri, punya banyak teman, banyak kumpul dengan teman satu jurusan dan satu-satunya kekhawatiran dia hanya pada bagaimana cara dia mendapatkan nilai A di mata kuliah wajib tapi dosennya wassalam.

Ya kadang merasa greget juga dengan tugas banyak, apalagi harus bergelut dengan program yang mempunyai banyak koding yang rumit dan menu makan siang yang tidak jauh dari nasi pecel jamur dan es teh. eh itu mah menu makan di Solo ya, di Bandung mah nggak terkenal menu nasi pecel jamur.

Sponsored!

Raisal bercerita bahwa dia saat itu masih naif. Pengennya lulus cepat 3,5 tahun, pengen cepet-cepet kerja, seakan-akan lulusan sarjana itu mudah sekali mencari pekerjaan. Tapi, setelah dia benar-benar lulus kuliah, dia baru sadar bahwa selama ini sebenarnya dia tidak pernah benar-benar memikirkan apa yang sebenarnya ingin dia lakukan.

Mwnjalani hidup lebih dari 20 tahun lamanya dengan kebergantungan kepada orang tua, dia kaget karena tiba-tiba saja setelah lulus kuliah dan memiliki gelar sarjana, dia dituntut untuk ‘dilepas liarkan’ begitu saja ke dunia yang sangat asing bagi dirinya.

“Gak asing bagaimana coba bro, selama 20 tahun lebih, saya hanya taunya belajar dan belajar, kerjaan saya cuma itu, gak pernah sama sekali mikirin kehidupan kedepannya bagaimana” tutur Raisal.

Raisal juga bilang “Biasanya orang tua yang bisanya nyuruh belajar dan belajar, pokoknya nilai selama saya kuliah harus bagus dan ngelarang saya untuk pacaran, katanya biar focus kuliahnya. Giliran sudah lulus, sudah gede, nanya-nanyain pacarnya mana, kalo sudah seperti itu rasa-rasanya pengen nanya balik dengan pertanyaan-pertanyaan yang bikin ortu skak mat, nggak bisa jawab”

Raisal juga menuturkan bahwa saat dia sudah bertemu dengan kehidupan yang nyata, kehidupan yang sesungguhnya, saat itu juga dia baru sadar, bahwa apa yang telah kita rencanakan selama kuliah ternyata tidak realistis di kehidupan nyata.

Pekerjaan yang kita impikan ternyata tidak mudah didapat begitu saja, tidak semudah apa yang kita bayangkan.Tapi disisi lain dia memiliki idealisme, dia tidak mau bekerja kantoran, menurut dia pekerja kantoran itu membosankan, melelahkan dan sangat terpaku dengan waktu.

Akhirnya menyisakan dua pilihan, dia ingin berwirausaha, tapi dia bingung berwirausaha apa dan pilihan terakhir untuk lanjut S2, tapi dia bilang rasa-rasanya malas berfikir lagi jika lanjut S2.

Sambil tertawa dia bilang, “…dan kalau memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa, rasa-rasanya minder dengan yang lain, apalagi hidup ini terus berjalan, dan kita butuh uang untuk menjalani kehidupan kedepannya, haha”

Dan dari situlah, para lulusan sarjana dengan kerendahan hatinya dan tentunya keiklasan, kerelaan dirinya untuk mengerjakan apa pun yang bisa dikerjakan, dan menghasilkan uang.

“Tapi kok rasa-rasanya gak happy gitu ya… lalu kita mulai meragukan kemampuan kita sendiri, lalu timbul rasa penyesalan, saya ngapain ini Anj*ng, rasanya sia-sia aja, susah-susah kuliah hampir empat tahun, tapi malah dapat kerjaan serabutan gini”

Sponsored!

Dan akhirnya, tidak heran banyak sarjana depresi, banyak yang auto cemas, sebenarnya kita tahu, kita berhak mendapatkan sesuatu dari apa yang kita lakukan selama kuliah, sesuatu yang lebih baik.

Kehidupan pasca kuliah itu adalah kehidupan yang membosankan, menyedihkan!

“Sudah bingung mau ngapain, saya juga sudah mulai kesepian, teman-teman dekat saya semasa kuliah juga pergi satu per satu, karena sudah mempunyai kesibukannya masing-masing.”

Lalu saat kita sedang bingung-bingunya mau ngapain, kesepian, entah apa yang harus dikerjakan tiba-tiba saja banyak orang yang bilang seolah-olah tahu apa yang seharusnya kita lakukan, yang menurut dia tentu saja sangat aneh, karena kita tahu betul nasehat mereka sudah jaman old, nasehat ketinggalan jaman dan hanya akan bisa direalisasikan 40 tahun lalu.

Sekalinya menasehati, kenapa tidak jadi Youtuber, biar kayak Atta, Ricis. Itulah nasehat jaman old, seolah-olah apa yang diomongkan itu semudah membalikkan telapak tangan.

Lagian menurut dia, kalau misal memang gampang, ngapain juga sedih kalo kita hidup berpedoman dari nasehat-nasehat orang lain, yang sudah jelas tidak tahu apa-apa. Sebaik dan sebagus-bagusnya ketika kita seharusnya memutuskan sendiri apa yang nantinya akan kita lakukan.

Dan yang terpenting jangan sampai lupakan impian yang kita buat semasa dikuliah, karena ini menjadi keputusan paling krusial, bisa untuk menentukan beberapa aspek kehidupan kita kedepannya, dan yang harus dipegang teguh adalah jika kita kita putuskan berdasarkan keputusan orang lain, akan membuat kita hidup dalam bayang-bayang orang lain, selamanya!

Pekerjaan yang kita pilih nanti adalah yang menentukan berapa gaji awal kita, seberapa banyak waktu luang yang kita miliki, teman seperti apa yang akan kita kenal nanti, tempat tongkrongan seperti apa yang kita dapatkan, menu makanan apa yang nantinya menjadi menu makanan favorit saat makan siang dan kadang-kadang bisa saja menentukan siapa orang yang kelak akan kita nikahi.

Menurut Raisal, itu sedikit dari sekelumit dampak buat diri sendiri, belum lagi buat orang lain. Kita hidup juga pastinya ingin berguna buat orang banyak kan?

See? Life after college is membosankan, menyedihkan!

Nasehat yang menjadi pegangan satu-satunya adalah hanya “Follow Your Passion” dan “Ikuti keahlian yang kalian miliki” tapi masalahnya, banyak dari kita yang tidak merasa mempunyai passion dan keahlian yang spesifik.

Sponsored!

Hanya orang-orang yang beruntung yang sudah tahu passionnya dan keahlian mereka setelah lulus kuliah.

Tapi hidup bagi orang yang sudah mempunyai passion itu juga sama-sama membosankan, bisa jadi mereka tidakberuntung-berntung amat dan mempertanyakan apakah ini yang ingin mereka lakukan, apa sudah sesuai keinginan atau belum.

Raisal juga mengatakan bahwa, “kamu juga harus mempertanyakan kepada dirimu sendiri, hatimu sendiri. Jangan-jangan kamu menganggap jalan yang kamu pilih sudah benar karena kamu mengikuti nasehat orang lain.”

Dia mengungkapkan bahwa jika hal tersebut sudah ditanyakan pada diri kita sendiri dan hati kita, tapi malah menajdi bingung sendiri. Selamat datang di fase krisis identitas! Selamat memasuki quarter life crisis! Jika sudah demikian berbanggalah kamu, artinya kamu sudah memasuki tahap kedewasaan yang sebenar-benarnya!

Jadi apa yang seharusnya kita lakukan ketika kita tahu bahwa kehidupan pasca kuliah, tidak seindah lulus cumlaude?

Saya hanya menyampaikan dengan menulis artikel ini, pengalaman sepenuhnya berasal dari teman saya Raisal, saya pun belum merasakan, dan ketika saya menuliskan artikel ini pun saya masih duduk di bangku kuliah, wk.

Tapi dengan saya menulis dan mensharenya setidaknya saya tahu bahwa saya tidak sendirian, dan ini bukan merupakan sesuatu hal yang menyedihkan karena banyak orang-orang diluar sana yang terlihat glamor  oleh diri kita sendiri juga barangkali belum menemukan apa yang mereka sendiri inginkan.

Jalan terbaik untuk lulusan New Sarjana adalah saling menyemangati dan saling menguatkan. Dan satu hal lagi jika kita sudah memasuki fase ini kita harus menjaga sikap dan jangan terlalu frontal, apalagi menyalahkan diri sendiri. Asal kamu tahu saja, fase ini adalah fase yang dilewati oleh semua orang. Jangan terburu-buru dan merasa terbebani untuk bisa sukses cepat di usia muda. Sukses itu butuh jatuh bangun, tidak ada yang instan, Mie Instan saja butuh proses untuk bisa menjadi makanan yang siap dimakan, sukses itu butuh perjuangan, harus gagal agar belajar, dan harus banyak mencari pengalaman.

Mohon maaf nih ya kalo saya terlalu bijak,wk.
Kata-kata bijak dalam artikel ini juga banyak dibantu oleh teman saya, yang telah membagi pengalamannya dengan saya. Dari dia juga saya belajar menyikapi bahwa kehidupan pasca kuliah itu, tidak seindah lulus cumlaude.

 

Artikel ini pernah tayang sebelumnya di SUNDO ID

Sponsored!

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More