Ketindihan Pocong di Kos-Kosan

0 34

ATRA – suasana yang hening, tak ada suara sedikitpun, hanya engahan nafas darinya. Badannya tidak bisa bergerak saat ketindihan, sementara matanya tertuju pada suatu sosok yang berada di atap langit kosannya.

Cerita ini mengisahkan tentang seseorang teman kampus yang baru saja pindah kos-kosan. Namanya Rogi, ia berasal dari Bandung yang merantau ke Solo.

Kos-kosan baru yang dia tempati berada dipinggiran kota, hanya saja kos-kosan tersebut terlalu sulit dicari karena letaknya yang masuk gang. Rogi memutus untuk pindah kosan ke tempat itu katanya lebih hemat dan ekonomis. Di benaknya ia bisa mengajak berkumpul dengan teman-teman kampusnya karena selain kosan Rogi lebih luas dari kosan sebelumnya dan harganya pun cukup murah dibandingkan kosan lamanya.

Aku dibantu kawan lainnya membantu pindahan Rogi dari kosan lama ke kosan baru di hari itu. Kami hanya membantu menurunkan dan membawanya sampai di depan kosannya, tidak sampai ikut merapihkannya, tapi setidaknya Rogi sudah menata tempat tidur yang dimana nanti malam akan dipakai untuk istirahat malam nanti.

Setelah ditraktir makan oleh Rogi dan sejenak mengobrol, kami memutuskan untuk pamitan. Temanku sempat menawari Rogi untuk menginap tempatnya dulu atau di tempat teman lainnya, biar besok kita bantu-bantu lagi untuk membereskan dan merapihkan kosannya.

Tapi Rogi menolak. Apa boleh dikata, aku dan teman lainnya akhirnya pergi dan meninggalkan Rogi di kosan barunya itu.

Selanjutnya, yang terjadi adalah ketika Rogi menceritakan ulang kejadian yang ia alami kepadaku. Selepas kepulangan aku dan teman-teman dari kosan barunya. Jam sudah menunjukkan pukul 23.30 dan Rogi langsung rebahan di kasurnya.

Sponsored!

Rogi pada malam itu ingin sekali langsung memejamkan matanya, rasa kantu yang tak tertahankan lagi. Entah sudah berapa lama terdidur, seketika itu juga badannya terasa sesak dan tidak bisa digerakkan. Sensasi aneh mulai di rasakan Rogi di badannya, Rogi samar-samar mendengar suara angin kencang, sementara ia sudah benar-benar merasakan badannya sudah tidak bisa digerakkan.  Ketindihan!

…..Pocong!!!!!!!!
[!!!!![[[!!]!!\!!/!!!]

Rogi ingin berteriak, tapi posisi ketindihan itu menjeratnya dengan telak. Ia mencoba memejamkan matanya dan berdoa, tapi lagi-lagi usahanya tidak berhasil, nihil. Mulutnya tidak mengeluarkan suara, ia mencoba teriak juga tidak bisa, seolah-olah ketindihan itu sangat fatal dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Penuturan Rogi, mengatakan, bahwa satu menit saja ketindihan rasanya seperti satu abad lamanya, jangan lebay lu Rogi akhirnya badannya kembali seperti semula. Rogi yakin sosok yang dilihat tadi adalah pocong hanya ilusi semata. Karena ia tadi tertidur dengan posisi terlentang, kali ini dia merubah posisi tidurnya agar terhindar dari hal yang serupa. Maka, dimiringkanlah badannya kea rah kiri.

Baru sebentar saja tertidur, rasa yang samadirasakan kembali oleh Rogi. Badan Rogi kaku dan tidak bisa digerakkan kembali, begitupun dia tidak bisa bersuara kembali dan sialnya matanya kembali terbuka dan melihat kembali sesosok pocong, kali ini dia melihat bukan diatas, tapi di pojokan pintu kosannya, tepat di sebrang posisi tidurnya.

Ketakutan Rogi menjadi-jadi ketika dia melihat sosok pocong itu kembali tepat berada diatas tubuhnya, matanya kembali dipejamkan, sementara keringat dinginnya bercucuran membasahi tubuhnya. Untungnya hal itu btidak terlalu lama dia alami, dan dia kembali seperti semula.

ANtara merasa ngantuk dan takut, Rogi memutuskan untuk melanjutkan tidur. Kali ini, untuk menghindari hal serupa kembali terulang, ia membalikkan badannya dan tidur menghadap ke tembok, pasti dipanggil hey tayo, terus dia menembok, jangan menembok woy, malu apa gimana ya dia,wk ia berharap dengan berpindah posisi lagi dia tidak mengalami hal yang serupa, melihat sesosok pocong kembali. Lagi pula, menurut penuturan dia, ketindihan ini terjadi jika kita berada pada frekuensi terendah, artinya ketika kita sedang lelah sekali, bukan kejadian ghoib!

Ia memejamkan matanya lagi setelah berdoa dengan rasa yang masih ketakutan. Ya Allah, tolonglah Hambamu ini, Hambamu ini masih mengantuk.

Memang sial nasib Rogi pada malam itu, sampai tiga kali mengalami ketindihan secara terus-menerus. Lagi-lagi, ia pasrah dan membiarkan badannya kaku dan tidak bisa bergerak, sementara matanya tertuju pada sosok yang lebih mengerikan di bandingkan dua kejadian sebelumnya.

Tepat didepan matanya, diantara dirinya dan dinding, ada sebuah wajah mengerikan dibalut kain putih kusam disekelilingnya.

Sponsored!

Sosok pocong yang daritadi mengganggunya itu berada di satu ranjang kasur dengan dirinya.

[!!!!![[[!!]!!\!!/!!!]

Rogi berteriak sekencang-kencangnya, kali ini dia tersadar dan bisa mengeluarkan suara. Bukan main, suara teriakan Rogi, sampai-sampai tetangga kosan yang berjarak lima rumah dari kosannya itu terbangun, lalu berkumpul keheranan di depan pintu kosan Rogi. Bertanya-tanya….

Artikel ini pernah tayang sebelumnya di SUNDO ID

Sponsored!

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More