ATRA – Kadang mahasiswa itu tidak terlalu kritis saat duit dompet krisis, melakukan segala cara agar bisa mengamankan sisa duit di dompet agar cukup hingga akhir bulan. Ketika sudah seperti itu, rayuan yang tak masuk akal pun diterimanya dengan lapang dada.

Bisnis dalam dunia perkuliahan memang sangat membanggakan bagi yang melakoninya, apalagi ketika seseorang tersebut masih menyandang predikat mahasiswa dan paling kecenya lagi ketika orang tersebut masih tergolong memiliki usia muda. Apapun yang dia mau, hajar terooos selagi pemasukan dari hasil bisnis yang dirintis mengalir terooos.

Berbekal keinginan menjadi kece tersebut lah sebagian mahasiswa malah justru jatuh di lubang buaya jurang kehancuran dan membuat rusaknya kehidupan. Banyak orang yang sudah tak asing lagi dengan yang namanya bisnis Multi Level Marketing (MLM) memang bisnis tersebut sudah menjamur bagai virus yang menyebar tak terkendali, bagaikan virus zombi yang selalu menularkan kepada manusia lainnya sehingga tertular dan sulit di sembuhkan.

Sebenarnya bisnis MLM semacam itu sudah diharamkan oleh Alim Ulama NU dalam sidangnya Musyawarah Nasional Alim Ulama NU 2019, dalam sidang tersebut dikatakan bahwa terdapat pelanggaran syariat sehingga bisnis MLM kerap menyesatkan seseorang yang sudah terjerumus kedalamnya. Tapi tetap saja, yang namanya mahasiswa yang belum memiliki penghasilan dan ditawari janji-janji manis dengan penghasilan dan bonus yang di luar nalar. Membuat mereka tercuci otaknya, dan memutuskan untuk bergabung tanpa mengindahkan dampak kedepannya bagi kehidupan mahasiswa tersebut.

Salah satu teman saya di kampus sala satu korban virus bisnis MLM yang di iming-imingi jani manis dan bonus di luar nalar. Dia sudah bergabung selama 7 bulan di salah satu MLM yang berpusat di Kota Yogyakarta dengan produk andalannya sebuah obat yang diyakini “mujarab” menyembuhkan berbagai penyakit tidak termasuk penyakit patah hati karna ditinggal pacar, tidak termasuk sakit hati lihat mantan sudah bisa move on dan dapat pasangan lagi, pokonya penyakit yang seperti itu tidak termasuk.

Saat itu teman saya baru saja berkenalan dengan seorang mahasiswa yang berkuliah di salah satu universitas swasta islam ternama di Yogyakarta, awalnya teman saya sempat curiga tumben amat mahasiswa jogja main jauh-jauh ke solo, yang ada bahkan sebaliknya. Tapi menurut penuturan dia, dia sedang berkunjung dengan teman dekatnya yang sekarang berkuliah di kampus swasta ternama di Solo.

Alhasil dari perkenalan mereka, mereka mengobrol seperti orang yang sudah kenal lama, hingga akhirnya obrolan mereka melebar sampai ke bisnis yang bisa menghasilkan pekerjaan dan mendapatkan bonus belasan juta rupiah ketika ikut bergabung dengan bisnis tersebut. Singkat cerita orang yang baru dikenal oleh teman saya mengajak teman saya untuk bergabung ke dalam bisnis MLM tersebut.

Seperti kebanyakan bisnis MLM lainnya yang menerapkan sistem piramida tersebut, orang yang sudah bergabung harus mengajak sebanyak-banyaknya untuk bergabung lagi, ini yang merupakan kunci utama, semakin banyak orang yang bergabung melalui ajakan dia, semakin banyak bonus yang dijanjikan. Karena sudah termakan janji-janji manis, teman saya tidak menghiraukan dampak negatif yang ditimbulkan, dia pada saat itu enjoy-enjoy saya. Tapi malah setelahnya, dia malah enjay, anjay dan schock.

Sebelum teman saya bergabung dia diajak ke salah satu hotel di bilangan maguwo, sleman. Disana dia melihat banyak orang yang datang dan duduk di auditorium hotel tersebut. Teman saya dikenalkan dengan orang yang sudah sukses bergabung dan menekuni bisnis MLM tersebut, teman saya mengaku seperti terkena sihir Voldemort yang jahat dan dijanjikan dengan penghasilan jutaan rupiah ketika begabung dengan bisnis MLM tersebut, bisa beli mobil dalam waktu hanya beberapa bulan saja.

Ketika begabung teman saya sampai menjual laptop dan hanya mendapatkan satu juta rupiah, dari duit hasil menjual laptop itulah duit tersebut disetorkan untuk bergabung bisnis MLM tersebut, dikatakan pula bahwa duit yang sudah didaftarkan akan kembali 100%  bahkan lebih. Pada saat itu teman saya berhasil mengajak orang dalam jaringannya dan join bisnis MLM tersebut. Tapi kenyataan memang sakit dan sulit diterima, teman saya awal bergabung mendaftar satu juta dan di bulan pertama dia mendapatkan dua ratus ribu, teman saya percaya bahwa apa yang didapatkan akan rutin setiap bulannya, tapi nyatanya tidak.

Teman saya merasa menyesal karena mengikutkan temannya bergabung dengan bisnis MLM tapi apa yang dikeluarkan tidak sepadan dengan apa yang di dapat, rugi waktu dan rugi segalanya. Banyak hal yang lebih bermanfaat untuk dilakukan ketimbang mengikuti bisnis MLM yang sudah diharamkan tersebut. Alhasil teman saya keluar dari bisnis tersebut dan meninggalkan semua kegiatan yang dilakukan selama ini yang berkaitan dengan bisnis MLM.

Teman saya tersebut bertekad jangan ada lagi korban dari kebohongan bisnis MLM tersebut, itu bukan bisnis yang menghasilkan jutaan rupiah melainkan money game yang yang seolah-olah memberi harapan, tapi harapan palsu bagi orang yang bergabung untuk menghasilkan duit jutaan rupiah dan bonus yang tak wajar. Bukan hanya hilang harta akibat mengikuti bisnis MLM, tapi juga teman saya kehilangan hubungan pertemanan dengan beberapa temannya di kampus, hingga saat ini temannya selalu menjahuinya dan tidak pernah mau diajak mengobrol.

Sudah lah ya, jadi mahasiswa itu jika tidak ada bakat berbisnis dibawa santai wae, tugas dan tanggung jawab utama mahasiswa itu adalah belajar, belajar dan membuktikan kepada orang tua kewajiban kuliah dengan benar hingga mencapai puncak tertinggi dalam perkuliahan. Menyandang gelar sarjana dan membuat bangga orang tua disana.

Artikel ini telah tayang di SUNDO ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here