ATRA – Ada diantara banyak mahasiswa yang berfikir menjadi seorang mahasiswa itu harus punya banyak kegiatan, salah satunya dengan mengikuti organisasi internal maupun eksternal kampus, tapi apa sih sebenarnya faedah mengikuti sebuah organisasi kampus?

Bagi para maba atau mahasiswa baru pastinya akan diarahkan untuk dikenalkan dengan berbagai macam organisasi kampus saat masa-masa pengenalan orientasi siswa. Banyak mahasiswa tingkat atas menawarkan dengan senyuman manis namun ujung-ujungnya sinis untuk membujuk agar masuk organisasinya, tapi kadang senyuman manis itu berubah ketika negara api menyerang ospek. Tidak heran diantara mereka ketika sudah mengetahui banyaknya organisasi kampus tak jarang mereka mengambil beberapa organisasi sekaligus, tapi sebenarnya mereka tahu tidak sih faedah dari berorganisasi di kampus? Atau cuma ikut-ikutan doang atau supaya keren gitu banyak kegiatan di kampus atau mungkin sekalian cari gebetan baru?

Tak heran jika para maba diawal kuliahnya yang mengambil beberapa organisasi sekaligus disibukkan dengan kegiatan ospek organisasi untuk menjadi anggota sah dari organisasi tersebut dan kadang ada beberapa ospek organisasi kampus yang dilakukan tidak manusiawi, bahkan pernah dalam beberapa kasus menelan korban jiwa, jika ospeknya saja sudah seperti itu sudah jelas ke unfaedahan yang dilihatkan dalam berorganisasi di kampus.

Memang banyak faedah ketika mengikuti organisasi kampus, tapi ada satu hal yang tidak pernah diajarkan ketika kamu berorganisasi di kampus dan itu sangat fatal se-fatal ketika kamu khilaf dengan pacar kamu. Perlu di pahami, ketika berorganisasi kamu pastinya diajarkan banyak hal dan tentunya ajaran itu seharusnya diterapkan di kehidupan kamu sehari-hari, setidaknya seperti itu bagi kamu mahasiswa yang punya akal sehat.

Memang benar mahasiswa yang mengikuti organisasi kampus peluang untuk meraih sukses terbuka lebar dibandingkan mahasiswa yang tidak mengikuti sama sekali organisasi kampus, tapi perlu ditegaskan kesuksesan seorang mahasiswa tidak diukur berdasarkan banyaknya mengikuti organisasi kampus. Organisasi kampus itu hanya sebagai pengisi kekosongan waktu ketika jadwal kuliah sedang tidak padat.

Saya jadi teringat dengan keluh kesah teman saya ketika mengikuti ospek organisasi kampus beberapa tahun silam, dia bercerita bahwa untuk mengikuti ospek organisasi dan menjadi anggota sah dari organisasi tersebut teman saya di beri surat untuk ditandatangani oleh dirinya sendiri dan orang tua dia. Surat itu sebagai jaminan bahwa ketika terjadi apa-apa dengan peserta bukan tanggung jawab penitia organisasi tersebut. Bisa dipikir logis kan, ini akal-akalan mereka saja yang mau balas dendam karna mereka sebelumnya juga di ospek dengan kekerasan. Ini bodohnya mahasiswa di Kerajaan Indone, selalu melakukan kekerasan setiap kali ospek entah itu ospek organisasi, ospek kampus, memang tidak semuanya seperti itu, masih ada yang baik-baik.

Apa, alasannya untuk melatih mental? Ketahanan fisik? Salah, organisasi yang melakakukan ospek dengan kekerasan itu adalah organisasi penyembah setan, bukan lagi organisasi kampus melainkan ritual atau sesembahan kesetanan yang benar-benar tidak ada faedahnya sama sekali bagi kehidupan mahasiswa dikampus. Jika hal tersebut dibiarkan lebih lanjut saya yakin bahwa manusia-manusia seperti itu akan mengancam keberlangsungan kehidupan bagi maba ketika mengikuti organisasi kampus.

Kembali ke cerita teman saya dimana dia menceritakan bahwa harus berjalan sejauh 45 KM, banyangkan gempor tuh kaki dipakai jalan sejauh 45 KM. Ketika sampai di lokasi bukannya di istirahatkan tapi malah disuruh push up dan baris-berbaris. Ketika malam tiba, tidak disediakan makanan, melainkan mereka disuruh memakan dari alam, makan apa di alam? Makan daun? Kalian type spesies kambing, bandot tidak semua dialam itu bisa dimakan dan layak untuk dimakan. Belum lagi ketika waktu tidur mereka menyuruh bahwa harus tidur tanpa alas apapun dengan atap langit, waktu subuh mereka diperintahkan bangun, untuk mengadakan sebuah game permainan, yang saya pastikan game permainan ini sama sekali tidak berfaedah sama sekali bahkan geme permainan ini adalah game kebodohan yang dibuat panitia organisasi.

Game permainan yang hadiahnya berupa makanan minuman yang layak, dan memang makanan dan minuman itu yang seharusnya kita dapatkan sebelumnya. Mereka memaksa peserta untuk push up dan scot jam dengan durasi hitungan tertentu dan ketika mereka mencapai batas hitungan tersebut akan dihadiahi makanan dan minuman layak tersebut. Bodoh memang, tapi otak-otak penyembah setan seperti itu akan terus bermunculan saat recrutment organisasi terutama pada saat masa-masa penerimaan mahasiswa baru, terutama mereka yang memiliki rasa dendam dan meneruskan dendam tersebut kepada anggota baru di tahun-tahun berikutnya.

Seharusnya organisasi kampus bisa menjadi panutan yang baik bukan malah menjadi penghancur kehidupan, ospek untuk penerimaan anggota baru dalam sebuah organisasi kampus selayaknya dilakukan dengan sewajarnya saja tanpa adanya kekerasan dan kebrutalan yang haqiqi, yang kadang terjadi tanpa sepengetahuan kampus.

Kembali kepada pembahasan, satu hal yang tidak pernah diajarkan ketika berada di organisasi. Satu hal itu adalah Kedisiplinan. Kalian merasa diajarkan kedisiplinan dalam berorgnaisasi? Sepengalaman saya dalam berorganisasi tidak pernah ada materi pembelajaran dan melatih kedisiplinan, ini yang salah dan fatal. Bahwa ketika kedisiplinan dikesampingkan dan tidak diajarkan sama sekali, semua yang ada di organisasi akan menjadi sia-sia sama halnya seperti penantian, nungguin pacar lulus S2 tapi ujung-ujungnya pacar nikah sama orang lain.

Kedisiplinan mahasiswa dan orang-orang khususnya yang berada di wilayah hukum Kerjaan Indone masih sangat memprihatinkan, dalam dunia kampus saja pasti kalian sering menjumpai mahasiswa yang sering datang telat ke kelas, apalagi pada saat kelas pagi. Merasa sudah menjadi hal yang wajar tidak disiplin menjadi budaya sehari-hari mereka, telat sedikit bukan menjadi hal yang masalah, nyantai, tau-tau dibantai oleh dosen ketika masuk kelas telat.

Ketidakdisiplinan juga diperlihatkan ketika suatu organisasi melakukan sebuah seminar nasional, mereka terkadang menuliskan jam mulai seminar di pamflet mulai pukul 7 pagi, tapi pada kenyataannya jam mulai seminar dimulai pukul 9 pagi dan itu terjadi pada setiap seminar kampus yang pernah saya ikuti. Rata-rata jam molor kisaran 1-2 jam dari jam mulai yang dituliskan di pamflet. Sungguh benar-benar budaya orang-orang Kerajaan Indone. Kelakuan orang-orang di negara berflower.

Diluar itu semua sebagai orang yang berpendidikan seharusnya berfikir, bahwa kekerasan adalah hal yang seharusnya menjadi tabu, bukan menjadi sesuatu hal menggebu-gebu untuk dilakukan. Dimana rasa kemanusiaan dan hati nuraninya, ospek anggota dengan kekerasan harus dicukupkan dan berhenti di kamu.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here