Pengalaman Seram di Wahana Rumah Hantu

0 59

ATRA – Pernah dengar tentang mitos rumah hantu? Konon jika kita masuk ke dalam wahana permainan rumah hantu kita dilarang untuk menghitung jumlah hantunya, alasannya karna mungkin saja ada mahluk halus yg sebenarnya juga ikut menakut-nakuti, sehingga ketika kita menghitung jumlah hantunya akan bertambah.

Sialnya aku sama sekali tidak tau larangan ini ketika masuk kuliah dulu, pada saat itu aku ikut menjadi hantu di rumah wahana rumah hantu dan hal tersebut membuat aku mengalami kejadian yg sangat mengerikan.

Namaku Dinar ceritaku berawal ketika aku mendaftar staff pembantu umum di event kampusku, event itu dibuka untuk umum dan bisa dibilang event itu  sudah punya nama karna sudah diselenggarakan turun temurun dari generasi terdahulu dan sudah menjadi budaya fakultas kami membuat wahana rumah hantu.

Karna peminatnya selalu banyak dan ramai, rumah hantu itu dibuat diruang auditorium fakultas kami, ruangan auditorium itu sangat besar, kira2 setengah lapangan basket. Sehari sebelum event dimulai kursi dan meja diruangan auditorium berganti sekat2 berbentuk labirin, sekat2 itu ada yg terbuat dari triplek dan ada juga dari kain putih yang digantung dengan tali.

Foto2 juga sudah dipindahkan dan diganti dgn hiasan2 yg mendukung tema. Singkat cerita seluruh persiapan sudah fix dan hari ini adalah hari pelaksanaan event di kampus kami. Beberapa jam sebelum acara koordinator acara datang terburu-buru dan melapor kpd koordinator devisiku, kalau dia kekuarangan orang untuk menjadi hantu di wahana rumah hantu.

Karna kebutuhannya adalah hantu wanita maka koordinator bidang acara itu menunjukku, yg memiliki rambut panjang untuk dijadikan sosok hantu di film Ju On, film horror Asia yg melegenda sesuai dgn tema wahana rumah hantu tahun ini yg mengangkat tema hantu jepang.

Aku langsung mengikuti kaka coordinator ke ruang make up, setengah jam kemudian mukaku sudah sangat tampak menyeramkan. Setelah itu aku langsung menuju rumah hantu yg telah siap untuk dibukaa, aku ditempatkan di pos terakhir. Karna sudah di sett sedemikian rupa, mau tidak mau aku masuk dari pintu depan, pintu utama rumah hantu ini.

Sponsored!

Selama perjalanan menuju posku aku iseng menghitung jumlah hantu yg ada di rumah hantu itu, dan total semuanya berjumlah 12 dan itu sudah termasuk aku. Tugasku menakut-nakuti pengunjung dengan merangkak mendekati pengunjung secara tiba2 dan membuat mereka ketakutan dan histeris.

Posku terdapat di dekat pintu keluar sekaligus menjadi pos terakhir, sekat yg gelap dan hanya diterangi lampu cempor memang membuat posku ini angker dan terasa horror dibanding pos yang lainnya.

Tepat jam 11 siang rumah hantu dibuka, ternyata menakut-nakuti orang adalah hal yg menyenangkan, pikirku bahagia. Walaupun hanya sebentar belajar menakut-nakuti dari kaka coordinator tadi aku merasa aku berhasil melakukan improfisasi yg baik. Dilihat dari pengunjung yg datang ke posku semuanya berteriak sambil lari terbirit-birit.

Mungkin karna terlalu asik menakut-nakuti pengunjung aku menjadi lupa waktu dan sekelilingku. Saat aku sadar akumelihat di belakangu sudah ada sosok seorang perempuan yg berpakaian serba merah dan berambut hitam panjang. Padahal sebelumnya tidak ada siapa2 disana.

Aku bingung, aku rasa aku mendengar kata kaka tadi dengan jelas bahwa aku adalah hantu terakhir, kenapa tiba2 ada satu peran hantu lagi dibelakangku. Perempuan itu mukanya putih, pucat dan murung, pandangannya lurus ke depan, menatap udara kosong dibelakangku.

Aku ingat, tadi aku melihatnya berada di dalam ruangan make up  menyendiri di sudut ruangan. Aku terus memperhatikannya berharap dia menyadari keherananku akan keberadaan dia, aku memutuskan untuk menegurnya. “Tempat kamu memang disini?” Tanyaku padanya. Dia tidak menjawab, aku menjalan mendekatinya. “Hhmm, bukannya gimana-gimana aku gak mau diomelin kak Saski lho, ini tempat aku tempat kamu dimana?” ia menoleh secara perlahan ke arahku, tiba2 matanya melotot sambil berkata “Aku sudah dari dulu disini” dengan suara bisikan dan tatapan yg menyeramkan.

Mendadak pula aku bisa mencium wangi bunga melati yg menusuk hidungku disusul dgn bulu kudukku yg berdiri, tanpa pikir panjang aku mencoba untuk beranjak keluar dari rumah hantu ini. Tapi, ia berdiri persis menghalangi pintu keluar dan tiba2, hah astaga ia tertawa cekikikan dengan sangat menyeramkan.

Perlahan dia mulai melangkahkan kakinya, makin lama, makin dekat. Tapi tak tahu kenapa nyaliku ciut dan aku mendadak tak bisa bergerak, aku diam terpaku. Perempuan berbaju merah itu terus mendekatiku dan perlahan pula dia mengangkat tangannya dan berusaha mencekikku. Sambil berbisik marah tepat disamping telingaku.

“ini tempat aku, pergi kamu dari sini, pergi, pergi jauh dari sini.” Aku mencoba meronta dan teriak minta tolong, tapi sia-sia. Badanku lemas dan suaraku mendadak hilang, aku makin menangis sejadinya, aku pasrah, kepalaku terasa berputar, nafasku sesak karna cengkraman tangan perempuan itu semakin kuat dan tubuhku mulai melemas.

Pandanganku semakin kabur. Kali ini tiba2, hah astaga. Muncul sosok anak kecil dgn tubuh hitam seperti terbakar, seorang kakek2 yg menyeramkan, bahkan aku melihat sosok perempuan dgn sosok putih yg penuh dgn bercak darah sedang menyeret badannya dilantai, mereka semua perlahan mulai mendekatiku. Astaga apaan ini, ya Tuhan tolong aku.

Sponsored!

Aku tak ingat apa2 lagi setelah itu, aku terbangun diruangan make up. Seluruh pemeran dan panitia rumah hantu ada disitu. Rupanya wahana rumah hantu itu di istirahatkan, setelah dua orang pengunjung menemukan aku pingsan di dekat pintu keluar. Saat aku terbangun aku sempat terkaget, disekelilingku teman2ku masih bermake up hantu.

Aku sempat menjerit kencang saat aku bangun karna kaget. Tapi kemudian aku ditenangkan oleh salah satu seniorku dan aku diberikan minuman yg dibacakan doa, blm sempat aku selesai minum, angin bertiup kencang sekali di ruangan make up. Disusul dgn teriakan temanku yg masih make up hantu dan berkostum hantu. Dia tiba2 menjerit. Dia kemudian berteriak2 tapi suaranya, suaranya bukan suara temanku.

Suara yg terdengar keluar dr mulutnya sekarang adalah suara perempuan setengah baya yg berulang-ulang mengucapkan kalimat “ini tempat aku, pergi kamu dari sini, pergi, pergi jauh dari sini.” Kemudian sosok temanku itu mendekat bergerak mendekatiku dan berusaha mencekik leherku. Hah astaga, teman-temanku yg lainnya hanya terdiam karna kaget, aku sempat dicekik oleh temanku yg kesurupan ini.

Aku tak bisa bernafas, bukannya malah membantuku, teman2ku malah mundur satu per satu dengan teratur mulai meninggalkanku. Aku yg ingin berteriak tak bisa, dan makin lama, makin lemas. Aku terbangun lagi untuk kedua kalinya, kurasakan sakit dileherku, sekarang disekelilingku makin banyak orang. Tapi sekarang aku melihat ada laki2 setengah baya sedang memegang tanganku, matanya tertutup dan mulutnya komat kamit membaca doa. Sekarang kurasakan pundakku panas sekali tapi makin lama makin hilang. Badanku terasa lemas sekali, kemudia datang selly teman dekatku dan kemudian membawakan gelas kepadaku.

Disitulah aku diterangkan oleh temanku, kalo bapak2 yg ada disebelahku ini adalah penjaga gedung fakultasku dan memang tadi salah seorang temanku kesurupan, dia kesuruan salah satu roh penunggu gedung ini. Ia berkata bahwa di fakultas kami memang ada penunggunya sosoknya adalah perempuan yg berbaju merah, ia memang sering menampakkan diri di sekitaran kampus tapi ia sering terlihat di auditorium. Beberapa orang di ruangan itu mengiyakan cerita itu, sementara beberapa liannya belum tahu karna terlihat ketakutan.

Bapak itu kemudian menerusan ceritanya, sosok penunggu itu marah karna kegiatan di auditorium itu menggangunya, dari situlah akhirnya wahana rumah hantu tidak diteruskan dan untuk kegiatan selanjutnya wahana tersebut dipindahkan lokasinya.

 

END.

 

 

Sponsored!

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More