ATRA – Dikutip dari Bank Dunia, Negara Indonesia adalah masuk sebagai kategori Negara yang sedang berkembang. Lalu masalahnya apa, kita-kita hidup dinegara berkembang?

Sebagai seorang calon Sarjana, jurusan Hukum.. yang dikuliahnya demen keluyuran mulu, akhir-akhir ini saya berimajinasi (((imajinasi))) untuk ikut andil tentang isu HI seperti utang luar negeri, investasi asing, dan yang paling membuat saya speechless ketika calon Presiden Prabowo Subianto bilang, bahwa Negara Indonesia yang setara dengan Negara Rwanda.

Kalau kamu-kamu belum tahu Negara Rwanda, Negara Rwanda itu ada di benua Afrika, kata Rwanda sangat familiar di kalangan pengguna facebook, “Status kamu di Rwanda Facebook di like 10juta orang.” wk.

Dalam artikel ini saya akan membahas sekelumit dari teori-teori impossible politik yang masih kinyis-kinyis, dan kalau misalkan sudah merasa pusing dan mual setelah membaca artikel ini silakan hubungi Dokter Gigi terdekat.

Sek le, sebelum kejauhan membahs disini kita samakan dulu hati kita, agar satu tujuan tentang apa itu Negara berkembang atau bahsa gaulnya Developing Country.

So, definisi menurut KBBI, definisi Negara berkembang yaitu… nyari definisi sendiri aja le, artinya tidak ada kata sepakat bersama. Walau tidak ada kata sepakat hati ini sudah saling sepakat untuk menyatukan hatiku dengan hatimu, tapi setidaknya kita memahaminya bersama, oke ya bosque~

Asal kamu tahu saja, Negara berkembang itu tidak harus memiliki definisi besar dan tidak terpaku pula dengan KBBI. Negara berkembang itu bisa diukur dengan sebuah standar yang dibuat oleh Bank Dunia.

Ini kata Bank Dunia lho ya, dikutip dari website Bank Dunia, mereka menyebut di dunia ini hanya ada 2 tipe, yaitu negara berkembang dan negara maju. Sek-sek le, tapi kalo Negara miskin itu juga termasuk Negara berkembang?

Itu masih masuk dalam kategori le, tapi Negara berkembang dilihat dari industrialisasi, pengukuran dan konsep pembangunan, ekonomi suatu Negara itu sendiri, pendapatan per kapita (jumlah pendapatan Negara dibagi jumlah populasi) dan masih banyak lagi. Nah, dari situlah, kita bisa mengelompokkan mana negara berkembang yang miskin, mana negara berkembang menuju negara maju.

Ini kata Bank dunia lagi lho ya, dikutip dari website Bank Dunia, mereka menyebut Negara maju itu adalah Negara yang pendapatan perkapitanya di atas $12,237 per tahun. Kalian tahu jika dijumlahkan dalam Rupiah berapa? Itung o dewe le, aku yo rak mudeng piro-pirone. Bercanda bosque~ Jika dirupiahkan sebesar Rp174,245,448 per tahun alias Rp14,7 juta per bulan.

Sementara Indonesia, yang kalian sebut Negara berkembang ini memiliki pendapatan per kapitanya hanya $3,487 atau Rp49,709,442 per tahun alias Rp4,1 juta per bulan, ya memang sudah betu kata calon Presiden Prabowo Subianto, bahwa Indonesia masuk Negara berkembang.

Lalu apa masalahnya kalo kita hidup di Negara berkembang? masalah buat lo gitu? Masalah juga buat gue? Kita mah yang penting bisa makan dan cari duit udah bersyukur, gak muluk-muluk harus hidup dinegara maju. Lalu yang harus disalahkan karna Negara Indonesia masuk dalam Negara berkembang itu siapa?

Presiden yang memimpin dengan periode terlama? Kalian jangan berfikir ke situ dulu ah, bukan, bukan Pak Harto, tapi Para Penjajah! Itu huruf P memang bikin masalah ya!

Coba kamu bayangkan jika Indonesia tidak dijajah Belanda dan Jepang. Kita pasti bakal jadi Negara maju (yakin banget kamu le,le) yakin lah, kalo hanya sekedar ukuran ekonomi doang.

Tapi ya mau gimana lagi coba, di ibaratkan mantan lebih cantikan ketika sudah putus, mau balikan lagi gengsi. Ya kan! Mau atau harus mau orang Indonesia harus menanggung dosa karena masa lalu, harus menjalani takdir sebagai orang yang lahir dan hidup di Negara berkembang. Mau pindah ke Negara maju juga perlu modal buat beli tiket pesawat, belum lagi harus bayar bagasi buat barang bawaan bener atau bener??

Seperti yang disesalkan calon Presiden Prabowo Subianto, lahir di Negara berkembang itu bikin greget pengen nyakar. Banyak ujian yang harus kita jalani, ujian yang tiap tahun 2 kali, Ujian Tengah dan Ujian Akhir, nih saya sebutkan beberapa:

Pertama, karna lahir di Negara berkembang, Orang Indonesia sudah terbiasa menertawakan kesusahan, saat ada teman yang kesusahan, bukannya di bantu malah pergi misal, kadang juga kita yang kesusahan gak ada yang mau bantu minjemin uang bukan hal yang tabu, jika Orang Indonesia sudah terbiasa dengan semua itu, menertawakan apa yang tidak harus ditertawakan.

Kedua, risiko hidup di Negara berkembang itu kita mempunyai mental ketergantungan dengan Orang lain.

Misalkan kita beruntung menang lotre $10juta, (langsung sugih tenan, wis rak sah nggolek kerjo) lalu ada saudara kita yg minjem uang kita, setelah sekian lama tidak di bayar, lalu dia bilang seenak udelnya kita kan saudara, harus saling bantu memberikan uang. Tiwas nek duwe saudara ngono, bantai ae. Nah, kalau dia sudah bilang gitu, kita mah gak bisa apa-apa, ya kan, ujung-ujungnya minjemin duit lagi terus-terusan.

Ada pepatah kuno Indonesia mengatakan, “bahwa sesuatu yang dikasih dari orang lain itu lebih enak dan nikmat dibandingkan kita mencari sendiri.” Wis, gak usah didengar pepatah itu, menyesatkan. Artinya kamu harus berani bilang ke sodaramu itu, saudara sih saudara, tapi kamu jangan nyusahin mulu, minjem tapi gak dibaliki, enak di lo, gak enak di gue.

Ketiga, risiko ketika kita lahir dan hidup di Negara berkembang adalah kita sering merenung. Ya gimana gak sering merenung! Penghasilan atau Gaji di Negara berkembang mentok di 4-5 jutaan, itu sebabnya kita-kita susah membeli rumah, susah beli mobil, susah kalo mertua atau menantu minta uang mahar sampai 200juta, ya udah ya neng, kita temenan aja neng, nikahnya lain kali aja! Merenung lagi kan, susah, susah hidup di Negara berkembang itu.

Jangankan beli barang mewah, kita-kita aja kebiasannya yang hidup di Negara berkembang itu selalu beli baju, sepatu yang ukurannya dilebihin satu,dua ukuran biar kepakenya lama, so sad, so bad L

Tapi jangan salah, lahir dan hidup di Negara berkembang ada sisi positifnya. Sisi positifnya adalah kita punya rasa kepedulian sangat tinggi antar sesame, saling membantu, saling gotong royong. Tidak seperti Orang yang hidup di Negara maju, mereka individual sekali, dan sedikit kurang bersahabat.

Buktinya banyak Orang desa yang saling gotong royong, misalkan ketika tetangga mengadakan nikahan, satu RT bahkan satu kampung ikut bantu-bantu. Bantu masak, bantu nyiapin tenda, bantu nyuciin piring, indah bukan jika semua Orang saling gotong royong seperti ini?

Risiko hidup di Negara berkembang mengajarkan kita untuk saling bantu, punya rasa empati yang tinggi, oleh karena itu orang Indonesia dikenal baik-baik.

Tapi kalau Bank Dunia menilai Negara maju dari sisi seperti itu, saling membantu, punya rasa empati tinggi dsb mungkin Indonesia adalah Negara termaju saat ini, sayangnya Bank Dunia menilai Negara maju bukan dari sisi seperti itu, ya apa boleh buat kan. Tapi saling punya rasa membantunya tinggi, gotong royong tinggi, sampai-sampai ada para pejabat otong oyong untuk korupsi, dan pejabat-pejabat lainnya ikut membantu menyembunyikan kelakuan korupsinya itu agar tidak terendus.

Artikel ini pernah tayang sebelumnya di SUNDO ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here