Tetangga Masa Kunti

0 64

ATRA – aku mahasiswa perantau disini, aku seorang mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas ternama di kota solo. Lebih dari 3 tahun lamanya aku tinggal di kota solo untuk menuntut ilmu dan mencari jodoh, aku mengontrak rumah bersama teman-temanku, semenjak pertama masuk kuliah hingga sekarang, aku memilih mengontrak, karna dari sisi sewa lebih murah dan tentunya untuk menghindari kesunyian malam saat di kontrakan. Setidaknya ada teman mengobrol dan tidak terlalu gabut memikirkan datangnya sang jodoh.

Aku ingin berbagi kisah tentang pengalaman mencari sang jodoh spiritualku yang pernah aku alami belum lama ini.

Malam itu tinggal aku seorang yang masih belum bisa tidur, teman-temanku waktu itu sudah lama terlelap tidur di kamarnya masing-masing. Sendirian aku rebahan di ruangan tengah, aku menengok ke arah jam, menunjukkan pukul satu.

Terdengar pelan, aku mendengar ada yang mengetuk jendela samping rumah, semakin lama semakin keras bunyinya, karna pada malam itu sangat sunyi sekali dan terdengar sangat jelas dan semakin jelas. Mungkin hanya angin, pikirku. Tapi sejak kapan angin bisa mengetuk jendela rumah orang?

Karna rasa penasaran aku memberanikan diri melihat ke arah gorden, sontak aku kaget dan memang benar saja, ada sesosok bayangan yang berdiri tinggi menjulang.

Apa itu temanku ya, pikiru. Aku memang punya teman yang sering begadang hingga larut malam dan sering membangunkan temen lainnya untuk menemaninya begadang. Seperti hewan nocturnal, dia malam berkeliaran dan paginya dia tidur. Tapi pikirku itu bukan dia, jelas bukan dia. Lagi pula dia sudah pulang ke kota asalnya, bulan kemarin dia baru diwisuda. Aku coba menatap sosoknya lebih dekat, sosoknya semakin jelas dan aku semain menyadari bahwa sosok itu bukan temanku yang aku kenal, sosok itu adalah sesosok kuntilanak.

Tapi yang tadi aku lihat sesosok bayangan hitam tinggi menjulang, kenapa sekarang berubah menjadi sesosok kuntilanak? Pikiranku sudah tidak karuan pada saat itu

Sponsored!

Wajahnya pucat seperti berhari-hari begadang. Matanya merah menyala menatap aku, mungkin sosok kuntilanak ini yang menampakkan ke temanku sebelumnya, batinku.

Beberapa malam sebelumnya, temanku juga terbirit-birit masuk rumah. Waktu itu masih belum terlalu malam sekitar pukul delapan malam ketika temanku berada di halaman samping kontrakan. Tidak jauh dari tempat berdiri, katanya, di bawah pohon kelengkeng, seseorang terlihat duduk-duduk. Pakaiannya putih, dari penerangan samar-samar yang menyoroti pohon kelengkeng itu, ia melihat matanya berwarna merah bara menatap padanya.

Kuntilanak itu lalu melambaikan tangan, meminta aku mendekat, aku pun pura-pura celingukan, berharap ada orang yang lewat disekitarku, tentu saja sudah malam beni mana ada orang yang lewat.

Aku bangkit dengan kaki gemetar, rasanya seperti mendapat nilai E dari dosen rese. Ketika posisi kami hanya dipisahkan oleh tembok teras rumah, ia menghardik, “awas kamu, jangan main-main dengan kami” lalu ia terbang sambil terus cekikikan tidak jelas.

Syukurlah, aku juga tida berniat mengundang kunti tersebut untuk mampir dan lama-lama untuk mengobrol dan aku pun buru kembali dan menutup pintu dan jendela dan langsung merebahkan diri dan tidur di kamarku.

Kontrakan ini memang dikenal banyak dihuni oleh hantu. Sebelum aku tempati dan sewa kontrakan ini, kontrakan ini sempat kosong beberapa lama. Dua bangunan di sisi barat dan seberang kontrakan dibiarkan kosong karena sang pemilik meninggal dunia, semenjak saat itulah dua bangunan itu tidak ada yang mengurusnya. Akhirnya setelah sekian lama saudara dari sang pemilik bangunan tersebut merapihkan dan merombak kembali bangunan itu.

Kedua banguna tersebut berdiri di atas tanah seluas 240 m. terletak di tengah-tengah perkampungan, jauh dari pemakaman, dekat dengan sungai, terhubung dengan jalan raya, Dan harganya kurang dari 120 juta. Bersahabat untuk dompet para pegawai yang belum memiliki rumah.

Untungnya, desas-desus soal hantu di bangunan tersebut setelah saudara dari sang pemilik merapihkan dan merombak, akhirnya ada mahasiswa juga yang mengontrak bangunan tersebut. Ketika kami mulai mencoba bergaul dengan tetangga baru itu, barulah cerita-cerita tentang penunggu di kontrakanku terdengar. Ada yang bercerita melihat sosok-sosok di depan kontrakanku dan mereka menghubung-hubungkannya dengan pohon yang tumbuh besar dan rindang dihalaman pinggir sisi timur kontrakanku, yang belakangan aku ketahui itu sebagai pohon kopi.

Ketakutan mulai menjadi ketika pohon kopi itu berbunga. Ketika malam hari menimbulkan aroma kopi yang sangat menyengat, aromanya semerbak sampai masuk ke ruangan kamr, memaksa kita tidur lebih awal.

Ketika malam pertama menempati kontrakan itu, sering sekali muncul seorang nenek-nenek muncul dihadapanku. Wajahnya cerah sedikit ditumbuhi bulu-bulu putih. Sebelum saya terkejut dengan kehadirannya, ia memegang dan menjabat tanganku erat-erat. Dia memperkenalkan diri sebagai tetangga baru. Lalu dia menghilang lenyap, mungkin memang mereka tidak pernah basa-basi.

Sponsored!

Sampai sekarang kadang terlihat ada yang berjalan di sekeliling kontrakanku ini. Tapi aku memegang ucapan si nenek-nenek bahwa kita bertetangga.

Soal ancaman kuntilanak itu, aku hanya menduga yang ada sangkut pautnya dengan pohon kopi di sisi timur kontrakanku, akhirnya aku tebang pohon kopi itu karena paksaan dari tetangga lainnya (tetangga manusia)

Kalau kapan-kapan bertemu lagi, aku akan mengajak agar sesekali kunti itu bisa melungkan waktunya hanya sekedar ngopi dan mengobrol. Ya, kalo aku tidak keburu lari terbirit-birit.

Artikel ini pernah tayang sebelumnya di SUNDO ID

Sponsored!

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More