ATRA – Molor teroooss! Ke-molor-an sebuah acara memang sangat menjengkelkan, tapi apa sih yang membuat acara bahkan sekelas seminar nasional di kampus-kampus sering molor dari jam mulai yang tertera di pamflet seminar itu sendiri. Karepe opo?

Saya sering sekali menghadiri seminar-seminar nasional di kampus, entah itu menghadiri seminar nasional dari kampus sendiri atau dari kampus tetangga. Saya jadi teringat perkataan seorang dosen yang mengatakan “kamu itu harus sering-sering ikut seminar, karna jika kalian sudah lulus nanti pasti akan jarang sekali kalian mengikuti seminar-seminar nasional seperti itu, kalaupun kalian bisa meluangkan waktu untuk mengikuti seminar nasional setelah lulus maka harga yang ditawarkan tidak semurah ketika kalian masih berstatus sebagai mahasiswa” ada benarnya juga, itulah salah satu motivasi kenapa saya sering mengikuti seminar nasional di kampus-kampus selagi masih berstatus sebagai mahasiswa.

Tapi sebenarnya saya termotivasi bukan benar-benar termotivasi, termotivasi karena harga yang ditawarkan saja, dengan harga khusus mahsiswa, karena memang mahasiswa itu status yang paling spesial. Banyak kok sekarang yang memberlakukan harga khusus mahasiswa, bukan hanya seminar nasional, mulai dari café, restoran, wahana permainan, atau bahkan berlangganan aplikasi musik yang berlogo jaringan wifi berwarna hijau itu yang nama belakangnya spotify.

Tapi yang disayangkan bahwa kenyataan sebenarnya adalah perekonomian seorang mahasiswa itu type-type perekonomian menengah ke bawah, jadi jikalaupun ada promo atau sesuatu apapun yang memberlakukan harga mahasiswa, saya sebagai mahasiswa tetap tidak bisa menikmati semua promo yang memberlakukan harga spesial mahasiswa. Mungkin ini memang hanya strategi marketing saja, orang marketing tau bahwa seorang mahasiswa memiliki daya beli yang rendah walaupun telah diberikan promo sekalipun.

Mengikuti seminar nasional di kampus sebenarnya bukan sepenuhnya kemauan sendiri karena memang ada mata kuliah yang harus mengumpulkan seritifikat yang didapat yang dimana sertifikat tersebut memiliki poin yang akan dinilai berdasarkan seberapa banyak sertifikat yang kita dapatkan. Segampang itu punya nilai A di satu mata kuliah, hanya mengumpulakn banyak sertifikat. Tapi jika semua mata kuliah di kampus seperti itu bagaimana ya, pasti lulus cumlaude dalam 3,5 tahun.

Tapi semakin saya sering mengikuti seminar nasional di kampus-kampus, ternyata ada satu kesamaan yang says temui dimana hampir 99% seminar yang saya hadiri pasti akan molor dari waktu yang sudah dijadwalkan di pamflet. Saya sendiri sebagai mahasiswa sangat menghargai waktu, jika diketerangan tercatat mulai pukul 7 pagi maka saya sudah datang di lokasi tepat pukul 7 pagi. Pengalaman ketika ada seminar nasional dan yang mengadakan Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) dari fakultas sendiri, di pamflet seminar tertulis jelas bahwa mulai pukul 7 pagi, tapi kenyataan memang menyakitkan, ketika saya datang tepat pukul 7 pagi di ruangan auditorium yang terletak di lantai 7 itu pun masih kosong dan masih bersliweran panitia mengangkat ini itu, untungnya yang mengadakan dari fakultas HMP sendiri, jadi gak terlalu malu. Setelah menunggu beberapa saat, dengan santainya teman saya selaku panitia berbisik “kamu ngapain datang pagi-pagi banget” ah, disitu mood saya ambyar, bubar jalan.

Dan kalian tau, mulai dan berjalannya seminar tepat pukul 9 pagi, selama dua jam itu lah acara molor dan saya hanya menunggu duduk-duduk manis manja di kursi penonton. Apa sih yang mereka kerjakan, kenapa tidak on-time seperti jam mulai yang ada di pamflet, kenapa harus molor? Itu seminar nasional yang pernah saya ikuti paling menyita emosi, hampir dua jam molor dan menunggu dan hanya duduk manis manja. Rata-rata seminar nasional yang saya hadiri molor tidak lebih dari satu jam, tapi tetap saja itu molor dan budaya tidak baik. Ini kebiasaan orang-orang Indone, suka me-molor-kan sesuatu yang seharusnya tidak molor. Tapi saya melihat sisi baiknya, akan ada banyak ilmu yang didapat dari saya mengikuti seminar.

Kesalahan me-molorkan acara terus saja dilakukan dan tidak diperbaiki, sebagai orang yang berpendidikan seharusnya membudayakan on-time dalam hal apapun, bukan kah kita di jajah oleh Jepang sudah ratusan tahun? Budaya orang Jepang dalam ke-ontime-an waktu sangat tinggi, kenapa kita tidak mencontoh mereka yang menghargai waktu dan tepat waktu dalam hal apapun. Sudah saatnya budaya molor harus di hapus dari penjajahan di atas dunia dan harus diperbaiki.

Memang sih tidak bisa dipungkiri, kejadian-kejadian yang tak terduga memang akan terjadi dan menghambat untuk bisa on-time, tapi setidaknya kita juga harus bisa mengantisipasi hal demikian itu. Termasuk dalam hal menyiapkan acara seminar nasional, bukankah mereka bekerja tim dan bukan bekerja sendiri. Seharusnya memang lebih maksimal dalam pengerjaan.

Jadi, apakah kalian masih mau mengikuti seminar nasional dengan ke-molor-an yang konsisten? Lihat sisi baiknya saja, jika bosan menunggu datang saja satu jam dari jam mulai di pamflet. Saya jamin kalian gak akan datang terlambat dan ketinggalan acaranya, karena memang seperti itu molor terooos!

Sebenarnya gampang sih untuk bisa on-time, mulailah dari diri kita sendiri, tidak ada salahnya mencoba dan konsisten menjalankannya. Niscaya apa yang kita kerjakan akan ada balasannya kelak. Seperti saat kita setia menunggu dosen pembimbing, secara tidak langsung kita sedang menjalani ke konsistenan itu dan pada akhirnya ketemu-ketemu juga dengan dosen pembimbing walaupun harus menunggu sampai lumutan dulu dan tidak ada alasan lagi bahwa seminar nasional di buat hanya untuk membudayakan ke-molor-an orang-orang Indone.

Artikel ini pernah tayang sebelumnya di SUNDO ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here